Bacaan: Lukas 11:1-13
NATS: Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat ... berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, "Tuhan, ajarlah kami berdoa ...." (Lukas 11:1)
Direktur dari sebuah perusahaan besar ingin berbicara dengan manajer pabrik tentang suatu masalah yang sangat mendesak. Akan tetapi, sekretaris manajer itu berkata, "Saat ini beliau tidak dapat diganggu. Beliau sedang ada pertemuan -- seperti yang dilakukannya setiap hari."
"Katakan kepadanya Pak Direktur ingin menemuinya," sahut direktur itu tak sabar.
Dengan tegas sang sekretaris menjawab, "Pak, saya mendapat perintah keras dari beliau agar tidak mengganggunya saat ia sedang ada pertemuan."
Dengan marah direktur itu menerobos melewati sang sekretaris dan membuka pintu kantor sang manajer. Setelah melongok ke dalam sejenak, ia kemudian keluar kembali, menutup pintu dengan pelan sambil berkata, "Maafkan, saya!" Direktur itu mendapati manajernya sedang berlutut di depan Alkitab yang terbuka.
Tujuan melakukan saat teduh setiap hari adalah untuk mendorong pertemuan yang akrab dan teratur dengan Raja di atas segala raja. Kita perlu mencari perintah-perintah baru setiap hari dari Pribadi yang telah merencanakan hidup kita dan memenuhi kebutuhan kita.
Yesus sendiri meluangkan waktu secara teratur untuk berdoa dan mendorong para murid-Nya untuk berdoa (Lukas 11:1). Dia mengajarkan kepada mereka Doa Bapa Kami dan mengatakan kepada mereka untuk senantiasa meminta, mencari, dan mengetuk (ayat 9,10).
Sudahkah Anda meluangkan waktu untuk bersekutu dengan Allah hari ini? Belum terlambat untuk memulainya --MRD
AWALI HARI ANDA DENGAN DOA
AKHIRI HARI ANDA DENGAN PUJIAN
Sunday, May 6, 2018
HIKMAT HARI INI
Copas dr group FC.
Papa dan Mamaku bukanlah pasangan yg romantis,tapi mereka bisa berkomitmen sampai akhir atas pernikahannya.
Pernikahan bukanlah suatu kondisi yang harus Anda tanggung dengan terpaksa. Ada banyak orang yang berusaha untuk bertahan dalam pernikahan mereka hanya karena tekanan sosial dan tidak ingin anak-anak menjadi korban perceraian mereka. Yang terjadi adalah mereka hidup dalam kondisi perang dingin, mereka hidup satu atap, tetapi tidak ada komunikasi, apalagi cinta dan keintiman.
Mereka hidup dalam suasana perceraian di balik tirai pernikahan. Keadaan ini biasanya dipicu oleh salah satu pihak yang menyatakan, “Aku tidak mencintaimu lagi.” Mereka mengatakan bahwa cinta itu sudah hilang. Yang sesungguhnya terjadi adalah bukan cinta itu telah hilang, tetapi mereka tidak mengizinkan cinta itu mengalir dalam diri mereka. Jika saja kita mengerti kasih Allah yang tidak bersyarat dan kasih Allah itu ada dalam diri kita, maka kita akan dapat memutuskan untuk mengizinkan cinta itu terus mengalir dalam diri kita.
Allah membenci perceraian karena 2 (dua) alasan: (1) Perceraian adalah pelanggaran terhadap kesepakatan yang melibatkan Allah di dalamnya. Seperti telah dikemukakan pada renungan sebelumnya bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian (covenant) yang melibatkan tiga pihak (suami, isteri dan Allah). Bahkan sebenarnya bukan tiga pihak yang terlibat di dalamnya, tetapi dua. Karena suami dan isteri adalah satu. (2) Perceraian menyerang dan mempengaruhi benih Ilahi.
Akibat yang nyata dari sebuah perceraian adalah dampaknya pada anak-anak. Anak-anak adalah benih Ilahi yang Tuhan tanamkan dalam keluarga Anda, dan perceraian merusak benih itu. Anak-anak adalah hasil dari apa yang terjadi dalam keluarga. Sekali Anda menanam bibit perceraian dalam pernikahan Anda, maka iblis akan menyuburkannya. Oleh sebab itu, coretlah kata “perceraian” dari kamus pernikahan Anda, cabutlah hingga ke akar-akarnya.
Jangan biarkan hal ini menjadi pintu gerbang bagi iblis untuk membawa kutuk ke dalam keluarga Anda. Datanglah kepada Tuhan dalam doa, mohon kekuatan dan pimpinan-Nya agar Anda dapat mematahkan kutuk perceraian itu. Allah dapat membawa Anda dan pasangan Anda kembali bersatu dalam pernikahan yang penuh cinta, karena Allah memiliki rencana yang indah bagi setiap pernikahan. Dia ingin menjadikan pernikahan dan keluarga Anda tempat untuk saling berbagi, saling mencintai dan saling melayani satu sama lain di dalam kuasa Roh Allah. (HS)
Pernikahan bukanlah 50-50. Perceraianlah yang 50-50. Pernikahan harus 100-100. Pernikahan bukanlah tentang membagi segala sesuatunya sama rata, tetapi tentang memberi segala sesuatu yang Anda punya. – Jesus Love You💕 #ink2018
Papa dan Mamaku bukanlah pasangan yg romantis,tapi mereka bisa berkomitmen sampai akhir atas pernikahannya.
Pernikahan bukanlah suatu kondisi yang harus Anda tanggung dengan terpaksa. Ada banyak orang yang berusaha untuk bertahan dalam pernikahan mereka hanya karena tekanan sosial dan tidak ingin anak-anak menjadi korban perceraian mereka. Yang terjadi adalah mereka hidup dalam kondisi perang dingin, mereka hidup satu atap, tetapi tidak ada komunikasi, apalagi cinta dan keintiman.
Mereka hidup dalam suasana perceraian di balik tirai pernikahan. Keadaan ini biasanya dipicu oleh salah satu pihak yang menyatakan, “Aku tidak mencintaimu lagi.” Mereka mengatakan bahwa cinta itu sudah hilang. Yang sesungguhnya terjadi adalah bukan cinta itu telah hilang, tetapi mereka tidak mengizinkan cinta itu mengalir dalam diri mereka. Jika saja kita mengerti kasih Allah yang tidak bersyarat dan kasih Allah itu ada dalam diri kita, maka kita akan dapat memutuskan untuk mengizinkan cinta itu terus mengalir dalam diri kita.
Allah membenci perceraian karena 2 (dua) alasan: (1) Perceraian adalah pelanggaran terhadap kesepakatan yang melibatkan Allah di dalamnya. Seperti telah dikemukakan pada renungan sebelumnya bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian (covenant) yang melibatkan tiga pihak (suami, isteri dan Allah). Bahkan sebenarnya bukan tiga pihak yang terlibat di dalamnya, tetapi dua. Karena suami dan isteri adalah satu. (2) Perceraian menyerang dan mempengaruhi benih Ilahi.
Akibat yang nyata dari sebuah perceraian adalah dampaknya pada anak-anak. Anak-anak adalah benih Ilahi yang Tuhan tanamkan dalam keluarga Anda, dan perceraian merusak benih itu. Anak-anak adalah hasil dari apa yang terjadi dalam keluarga. Sekali Anda menanam bibit perceraian dalam pernikahan Anda, maka iblis akan menyuburkannya. Oleh sebab itu, coretlah kata “perceraian” dari kamus pernikahan Anda, cabutlah hingga ke akar-akarnya.
Jangan biarkan hal ini menjadi pintu gerbang bagi iblis untuk membawa kutuk ke dalam keluarga Anda. Datanglah kepada Tuhan dalam doa, mohon kekuatan dan pimpinan-Nya agar Anda dapat mematahkan kutuk perceraian itu. Allah dapat membawa Anda dan pasangan Anda kembali bersatu dalam pernikahan yang penuh cinta, karena Allah memiliki rencana yang indah bagi setiap pernikahan. Dia ingin menjadikan pernikahan dan keluarga Anda tempat untuk saling berbagi, saling mencintai dan saling melayani satu sama lain di dalam kuasa Roh Allah. (HS)
Pernikahan bukanlah 50-50. Perceraianlah yang 50-50. Pernikahan harus 100-100. Pernikahan bukanlah tentang membagi segala sesuatunya sama rata, tetapi tentang memberi segala sesuatu yang Anda punya. – Jesus Love You💕 #ink2018
Thursday, May 3, 2018
SETIA DALAM PERKATAAN
Bacaan: Matius 5:33-37
NATS: Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak (Matius 5:37)
Tak lama sebelum kematian menjemputnya, Duke dari Burgundy memimpin Dewan Kabinet Perancis. Pada saat itu, para menteri membuat sebuah proposal yang akan melanggar sebuah perjanjian, namun akan mendatangkan berbagai keuntungan penting bagi negara.
Ada banyak alasan yang diberikan untuk membenarkan perbuatan itu. Duke mendengarkan dengan diam, dan ketika semua orang telah menyampaikan pendapatnya, ia kemudian menutup rapat tanpa memberikan persetujuan. Sambil meletakkan tangannya di atas salinan perjanjian yang asli, ia berkata dengan suara tegas, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!"
Orang kristiani memang perlu bertindak dan berbicara agar Sang Juru Selamat dimuliakan. Bila Anda berjanji, tepatilah janji itu. Jika Anda membuat suatu komitmen, hormatilah itu. Jika Anda menerima suatu tanggung jawab, jalankanlah. Yesus berkata dalam Matius 5:37, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya."
Kejujuran dan kredibilitas kita harus dibuktikan sehingga kita dapat dipercaya dalam perjanjian apa pun yang kita buat. Kesaksian indah yang dapat dikatakan tentang orang kristiani adalah "Ia berjanji; itu sudah cukup bagi saya". Dan jika orang-orang nonkristiani dapat memercayai kita dalam perkara-perkara bisnis, maka mereka akan semakin mungkin memercayai kita ketika kita berbicara tentang Injil.
Jika Anda tergoda untuk ingkar janji, pikirkanlah kembali perkataan Duke dari Burgundy tadi, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!" --RWD
JANGAN PERNAH BERJANJI JIKA ANDA TIDAK BERNIAT MENEPATINYA
Tak lama sebelum kematian menjemputnya, Duke dari Burgundy memimpin Dewan Kabinet Perancis. Pada saat itu, para menteri membuat sebuah proposal yang akan melanggar sebuah perjanjian, namun akan mendatangkan berbagai keuntungan penting bagi negara.
Ada banyak alasan yang diberikan untuk membenarkan perbuatan itu. Duke mendengarkan dengan diam, dan ketika semua orang telah menyampaikan pendapatnya, ia kemudian menutup rapat tanpa memberikan persetujuan. Sambil meletakkan tangannya di atas salinan perjanjian yang asli, ia berkata dengan suara tegas, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!"
Orang kristiani memang perlu bertindak dan berbicara agar Sang Juru Selamat dimuliakan. Bila Anda berjanji, tepatilah janji itu. Jika Anda membuat suatu komitmen, hormatilah itu. Jika Anda menerima suatu tanggung jawab, jalankanlah. Yesus berkata dalam Matius 5:37, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya."
Kejujuran dan kredibilitas kita harus dibuktikan sehingga kita dapat dipercaya dalam perjanjian apa pun yang kita buat. Kesaksian indah yang dapat dikatakan tentang orang kristiani adalah "Ia berjanji; itu sudah cukup bagi saya". Dan jika orang-orang nonkristiani dapat memercayai kita dalam perkara-perkara bisnis, maka mereka akan semakin mungkin memercayai kita ketika kita berbicara tentang Injil.
Jika Anda tergoda untuk ingkar janji, pikirkanlah kembali perkataan Duke dari Burgundy tadi, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!" --RWD
JANGAN PERNAH BERJANJI JIKA ANDA TIDAK BERNIAT MENEPATINYA
HIDUP INI NYATA
Bacaan: Mazmur 56
NATS: Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu (Mazmur 56:4)
Dalam komik Peanuts, tokoh Lucy mengatakan kepada Linus, saudaranya, bahwa anak-anak tidak bisa tinggal di rumah selamanya. Kelak mereka menjadi dewasa dan meninggalkan rumah. Lalu ia berkata bahwa bila nanti Linus pergi, ia akan menempati kamar Linus. Namun, dengan cepat Linus mengingatkan Lucy bahwa nantinya Lucy juga akan meninggalkan rumah.
Menyadari akan hal itu, Lucy pun terkejut, tetapi ia segera menemukan jalan keluar. Ia mengeraskan suara TV, merangkak ke kursi beanbag-nya [kursi kantong yang berisi kacang, dipakai dalam permainan tertentu] dengan semangkuk es krim di tangan, dan menolak memikirkan hal tadi.
Menghindari keadaan yang tidak menyenangkan tidak semudah yang Lucy pikirkan. Realitas kehidupan tidak dapat dihindari. Kita dapat mencoba lari dan bersembunyi, tetapi pergumulan dan ujian kehidupan selalu dapat mengikuti langkah kaki kita dan akhirnya menyusul kita.
Sebaliknya, kita harus menghadapi masalah kita. Pemazmur Daud melakukan hal ini saat diserang oleh musuh dan teman-teman yang menyesatkan. Ia tidak berusaha mengecilkan bahaya yang ada; ia menyambut badai yang mengganas di sekelilingnya dan memandang kepada Tuhan. Ia menulis, "Kepada Allah aku percaya" (Mazmur 56:5).
Marilah kita mengikuti teladan Daud -- bukan Lucy. Menghadapi beragam kesulitan dalam hidup mungkin merupakan pengalaman yang menakutkan. Namun, ketika kita percaya kepada Allah dan mendekat kepada-Nya, kita akan mengalami pembebasan yang nyata --PRV
TATKALA KESULITAN MENGHAMPIRI ANDA, HAMPIRILAH ALLAH
Dalam komik Peanuts, tokoh Lucy mengatakan kepada Linus, saudaranya, bahwa anak-anak tidak bisa tinggal di rumah selamanya. Kelak mereka menjadi dewasa dan meninggalkan rumah. Lalu ia berkata bahwa bila nanti Linus pergi, ia akan menempati kamar Linus. Namun, dengan cepat Linus mengingatkan Lucy bahwa nantinya Lucy juga akan meninggalkan rumah.
Menyadari akan hal itu, Lucy pun terkejut, tetapi ia segera menemukan jalan keluar. Ia mengeraskan suara TV, merangkak ke kursi beanbag-nya [kursi kantong yang berisi kacang, dipakai dalam permainan tertentu] dengan semangkuk es krim di tangan, dan menolak memikirkan hal tadi.
Menghindari keadaan yang tidak menyenangkan tidak semudah yang Lucy pikirkan. Realitas kehidupan tidak dapat dihindari. Kita dapat mencoba lari dan bersembunyi, tetapi pergumulan dan ujian kehidupan selalu dapat mengikuti langkah kaki kita dan akhirnya menyusul kita.
Sebaliknya, kita harus menghadapi masalah kita. Pemazmur Daud melakukan hal ini saat diserang oleh musuh dan teman-teman yang menyesatkan. Ia tidak berusaha mengecilkan bahaya yang ada; ia menyambut badai yang mengganas di sekelilingnya dan memandang kepada Tuhan. Ia menulis, "Kepada Allah aku percaya" (Mazmur 56:5).
Marilah kita mengikuti teladan Daud -- bukan Lucy. Menghadapi beragam kesulitan dalam hidup mungkin merupakan pengalaman yang menakutkan. Namun, ketika kita percaya kepada Allah dan mendekat kepada-Nya, kita akan mengalami pembebasan yang nyata --PRV
TATKALA KESULITAN MENGHAMPIRI ANDA, HAMPIRILAH ALLAH
RUTINITAS YANG BERKAITAN
Bacaan: Pengkhotbah 3:1-13
NATS: Setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah (Pengkhotbah 3:13)
Saat ini kita berada di awal minggu yang baru. Bagi banyak orang, Senin berarti awal dari siklus pekerjaan yang membosankan. Barangkali pekerjaan itu berupa setumpuk pakaian yang harus dicuci dan diseterika, pekerjaan yang tak ada habisnya dari sebuah mesin, rutinitas membosankan di tempat perakitan, atau rasa jemu menekuni pekerjaan di depan komputer.
Suatu hal yang monoton dapat menjadi tempat berkembang biaknya rasa iri dan ketidakpuasan, atau sebaliknya justru tempat pelatihan bagi perkembangan karakter dan kehidupan pelayanan. Semua itu tergantung pada bisa tidaknya kita melihat Allah di tengah tugas-tugas biasa kehidupan itu.
Seorang wanita di Boston bekerja sebagai petugas kebersihan selama 40 tahun di gedung kantor yang sama. Seorang wartawan mewawancarai bagaimana ia dapat tahan dengan suatu hal yang monoton dengan melakukan pekerjaan yang sama setiap hari. Wanita itu menjawab, "Saya tidak bosan. Saya menggunakan bahan-bahan pembersih yang diciptakan Allah. Saya membersihkan barang-barang milik orang-orang yang diciptakan Allah, dan saya menjadikan kehidupan terasa lebih nyaman bagi mereka. Alat pengepel saya adalah tangan Allah!"
Apakah saat ini Anda sedang mencari Sang Pencipta di tengah pekerjaan Anda? Dia hadir. Dia memakai tangan, tubuh, dan pikiran orang-orang yang menerima tugas-tugas mereka dan mengerjakannya untuk Dia. Tugas rutin apa pun berkaitan dengan pekerjaan Allah di dalam dan melalui diri kita -- untuk saat ini maupun dalam kekekalan --DJD
JIKA ANDA INGIN MENINGGALKAN JEJAK KAKI DI PASIR WAKTU KENAKANLAH SEPATU KERJA
Saat ini kita berada di awal minggu yang baru. Bagi banyak orang, Senin berarti awal dari siklus pekerjaan yang membosankan. Barangkali pekerjaan itu berupa setumpuk pakaian yang harus dicuci dan diseterika, pekerjaan yang tak ada habisnya dari sebuah mesin, rutinitas membosankan di tempat perakitan, atau rasa jemu menekuni pekerjaan di depan komputer.
Suatu hal yang monoton dapat menjadi tempat berkembang biaknya rasa iri dan ketidakpuasan, atau sebaliknya justru tempat pelatihan bagi perkembangan karakter dan kehidupan pelayanan. Semua itu tergantung pada bisa tidaknya kita melihat Allah di tengah tugas-tugas biasa kehidupan itu.
Seorang wanita di Boston bekerja sebagai petugas kebersihan selama 40 tahun di gedung kantor yang sama. Seorang wartawan mewawancarai bagaimana ia dapat tahan dengan suatu hal yang monoton dengan melakukan pekerjaan yang sama setiap hari. Wanita itu menjawab, "Saya tidak bosan. Saya menggunakan bahan-bahan pembersih yang diciptakan Allah. Saya membersihkan barang-barang milik orang-orang yang diciptakan Allah, dan saya menjadikan kehidupan terasa lebih nyaman bagi mereka. Alat pengepel saya adalah tangan Allah!"
Apakah saat ini Anda sedang mencari Sang Pencipta di tengah pekerjaan Anda? Dia hadir. Dia memakai tangan, tubuh, dan pikiran orang-orang yang menerima tugas-tugas mereka dan mengerjakannya untuk Dia. Tugas rutin apa pun berkaitan dengan pekerjaan Allah di dalam dan melalui diri kita -- untuk saat ini maupun dalam kekekalan --DJD
JIKA ANDA INGIN MENINGGALKAN JEJAK KAKI DI PASIR WAKTU KENAKANLAH SEPATU KERJA
PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN
Bacaan: Yehezkiel 33:23-33 NATS: Mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya (Yehezkiel 33:32)
Ada seorang pria yang rajin pergi ke gereja. Ia suka mendengar khotbah yang bagus dan mendiskusikan kebenaran Alkitab. Ia dan keluarganya setia mengikuti kebaktian dua kali setiap hari Minggu. Namun di rumahnya, pria ini adalah seorang yang kejam. Bahkan ia pernah memukul istrinya. Ketika mengetahui hal ini, pendetanya mencoba berbicara dengannya. Ia memperingatkan bahwa jika pria itu terus melakukan kekerasan, suatu kali kelak ia akan menjadi orang yang kesepian dan tidak dicintai. Namun teguran itu tidak dihiraukan.
Akhirnya, istrinya meninggalkannya dan para putrinya yang sudah menikah menolaknya. Perkataan pendetanya benar-benar menjadi kenyataan. Saat ini ia kesepian dan ditolak oleh keluarganya. Orang-orang pada zaman Yehezkiel mirip sekali dengan pria tua di atas. Mereka suka mendengarkan para nabi berbicara tentang petunjuk-petunjuk Allah, tetapi mereka tetap saja hidup dalam kejahatan dan tidak menghiraukan peringatan-peringatan yang diberikan dengan sungguh-sungguh. Dan tepat seperti yang dinubuatkan oleh para nabi, bangsa Babel datang dan menjadikan mereka bangsa tawanan. Hingga kemudian mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar, yakni mendengarkan firman Allah tanpa mau melakukannya. Namun sudah terlambat bagi mereka untuk mencegah datangnya hukuman Allah.
Tuhan, tolonglah kami untuk menerapkan kebenaran-Mu dalam hidup kami sehingga kami mengalami kasih-Mu. Tolong kami untuk menjadi pendengar sekaligus pelaku firman-Mu -HVL
HENDAKLAH KAMU MENJADI PELAKU FIRMAN DAN BUKAN HANYA PENDENGAR SAJA-Yakobus 1:22
TOLAK GERAKAN POLITIK DI TEMPAT IBADAH !
Pilgub DKI 2017, bisa dibilang adalah salah satu Pilkada paling berbahaya di Indonesia..
Bahayanya Pilgub DKI karena agama yang suci dijadikan alat politik kotor, yang bahkan dimobilisasi di tempat-tempat ibadah.
Tempat ibadah yang biasanya menjadi tempat mencari ketenangan, menjadi hiruk pikuk dengan hujatan dan makian, bersamaan dengan lantunan ayat suci dengan tafsir yang dibelokkan.
Miris rasanya melihat saudara seiman yang meninggal bahkan ditolak untuk dishalatkan karena berbeda pilihan. Dilain tempat, Alquran kitab suci disandingkan dengan golok untuk membaiat salah satu kandidat. Bahkan salah satu kandidat, diusir dari masjid ketika selesai shalat Jumat.
Toa-toa masjid sejak subuh berteriak seolah sedang menghadapi perang. Shalat Jumat penuh dengan ujaran kebencian dan dilain tempat kata "bunuh dan penggal" disandingkan dengan kata "Allah Maha Besar".
Polisi seakan tidak berdaya karena massifnya gerakan dimana-mana. Bahkan dewan masjid dan MUI terdiam seakan membiarkan.
Saya bergidik ketika membayangkan masa itu, dimana saya berada ditengah kancah dan menjadi salah satu saksi mata pilkada paling brutal yang pernah saya kenal..
Seseorang pernah memaki saya, "Rasulullah saja berpolitik di masjid, itu sesuai tuntunan !!"
Saya heran, tidak ada dalam cerita sejarah manapun Rasullulah Saw menggunakan tempat ibadah untuk menghantam umatnya sendiri. Jikapun beliau mengatur strategi perang didalam masjid, itu karena bertahan sebab ada ancaman serangan dari luar yang membahayakan umatnya sendiri.
Jadi, dapat pelajaran sejarah darimana orang yang memaki saya itu bahwa Rasulullah menjadikan masjid sebagai tempat politik untuk menyerang saudaranya sendiri ??
Dulupun pahlawan2 yang muslim sering menggunakan masjid sebagai tempat berorganisasi. Tetapi itu berkaitan dengan mengatur strategi untuk menghadapi penjajah yang menyerang negeri, bukan untuk memakan bangkai saudara seimannya sendiri.
Pembelokan makna bahwa "masjid bisa dijadikan sebagai tempat berpolitik" ini sangat berbahaya. Statemen ini dikeluarkan oleh orang2 yang punya nafsu berkuasa tapi tidak mampu bersaing dengan sehat dan akhirnya mengandalkan propaganda.
"Yang penting menang, negeri mau pecah urusan belakangan.."
Gerakan khilafah sedang mengintai situasi di Pilpres 2019.
Mereka akan terus memanfaatkan masjid sebagai tempat memainkan kartu-kartu mereka. Ini yang tidak disadari partai2 oposisi bahwa mereka sedang ditunggangi. Gelapnya mata karena kekuasaan membuat mereka buta akan dampak kehancuran kedepan..
Pernah seorang bertanya kepada saya, "Kenapa Tuhan seperti membiarkan Pilgub DKI menjadi begitu keras dan brutal ?"
Saya jawab, "Tuhan ingin mengajari kita, bangsa Indonesia, apa yang akan terjadi nanti jika kita hanya diam saja. Tuhan begitu sayang pada negeri ini, sehingga kita diberikan peringatan dini. Tidakkah Suriah memberikanmu pelajaran berharga, wahai rakyat Indonesia ? Peristiwa Jakarta seharusnya menjadi tanda untuk mulai waspada.."
Karena itu saya ingin mengajak semuanya, mereka yang mengaku bangsa Indonesia, cinta pada tanah air Indonesia, untuk menjaga masjid-masjid kita, gereja-gereja kita, vihara-vihara kita, kelenteng kita, dari kotornya politik yang mengatas-namakan agama..
Jika ada pemuka agama dalam ceramahnya nanti mengajak untuk memusuhi bangsa sendiri, kita rekam dan viralkan di media sosial. Gunakan gadget kita sebagai senjata..
Tolak politisasi agama. Sterilkan tempat ibadah. Kita kembalikan tempat suci sesuai fungsinya. Jangan nodai dengan politik kotor yang memecah belah. Jika bukan kita yang menjaga tempat ibadah kita masing-masing, lalu siapa lagi ?
Pilpres 2019 semakin dekat. Gerakan-gerakan senyap sedang berjalan. Mari kita mulai rapatkan barisan..
Seruput kopi dulu sebagai penyemangat..
Denny Siregar
www.baboo.id
Subscribe to:
Posts (Atom)