Saturday, June 9, 2018

CACING DAN BUAH

Bacaan: Ayub 37:14-19
NATS: Semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram (1Timotius 4:4)

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Allah membuat makhluk khusus, seperti nyamuk dan ular? Saya kerap kali bertanya-tanya tentang cacing. Mengapa Allah menciptakan binatang merayap yang menjijikkan itu?

Sebenarnya, cacing mempunyai fungsi yang sangat penting dan perlu. Amy Stuart, dalam bukunya The Earth Moved: On The Remarkable Achievements of Earthworms [Bumi Bergerak: Prestasi Cacing yang Luar Biasa] memaparkan bahwa dalam sekitar setengah hektar tanah terdapat cacing yang tak terhitung banyaknya sedang menggemburkan tanah. Kegiatan yang dilakukan dengan diamdiam dan tak terlihat itu mutlak diperlukan, sehingga apabila tidak ada cacing, maka tak akan ada tumbuh-tumbuhan.

Jadi, apa yang dapat kita pelajari dari cacing? Tidak saja pada alam, dalam hidup kita juga ada kekuatan-kekuatan tak terlihat yang sedang bekerja. Ada karya doa yang diam-diam dan tak terlihat dari mereka yang peduli pada kesejahteraan kita. Ada pekerjaan dari kedisiplinan jiwa kita sendiri, ketika kita berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Dan ada pekerjaan penting dari Roh Kudus, yang menggemburkan gumpalan tanah jiwa kita dan menghasilkan di dalam hati kita buah-buah Kristus, yaitu "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran ..." (Galatia 5:22,23).

Dalam hidup kita dan dalam dunia ini, Allah pun memerintahkan banyak pengaruh yang tak terlihat namun menghasilkan buah. Entah itu melalui cacing yang hina atau mahkota ciptaan Allah–yakni umat manusia–ada begitu banyak pekerjaan yang dilakukan meski tak tampak oleh mata --VCG

KARYA ALLAH YANG TAK TAMPAK DI DALAM HATI KITA
AKAN MENGHASILKAN BUAH DALAM HIDUP KITA

Thursday, June 7, 2018

DAPATKAH KITA BERSUKACITA?

Bacaan: Habakuk 3:17-19
NATS: Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, ... Allah Tuhanku itu kekuatanku (Habakuk 3:18,19)

Saya tidak pernah lupa pada pertanyaan yang diajukan oleh pemimpin pendalaman Alkitab kami, "Apa yang paling kautakutkan akan menjadi ujian terberat bagi imanmu kepada Tuhan?" Saat itu kami sedang mempelajari Habakuk 3:17,18, yang menceritakan bagaimana nabi itu berkata bahwa meskipun Allah mengizinkan penderitaan atau kehilangan terjadi, ia tetap akan bersukacita.

Sebagai seorang wanita lajang usia dua puluhan, saya menjawab, "Saya tidak tahu apakah saya dapat menahan kepedihan kalau kehilangan orangtua." Namun, hari itu saya berkata kepada Allah bahwa meskipun mereka meninggal, saya akan bersukacita di dalam Dia. Dan saya segera menyadari bahwa lebih mudah mengatakan kalimat itu daripada melakukannya.

Sebulan kemudian, Ayah didiagnosa menderita sakit jantung dan takkan hidup lama. Ia belum menerima Yesus sebagai Juru Selamat, jadi saya meminta agar Allah tidak membiarkannya meninggal sebelum mengenal Dia. Tahun itu, tidak saja Ayah yang meninggal, tetapi juga Ibu yang sudah menjadi orang percaya. Saya tidak tahu apakah doa saya untuk Ayah dikabulkan. Saya tak dapat bersukacita; dan bertanya-tanya apakah Allah mendengar doa saya.

Pada saat saya menggumulkan keraguan ini dengan-Nya, saya mengalami bagaimana Tuhan menjadi "tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan" (Mazmur 46:2). Saya pun menemukan harapan bahwa Allah, "Hakim segenap bumi," akan melakukan hal yang tepat untuk setiap orang (Kejadian 18:25).

Kita dapat bersukacita -- bila kita bersukacita di dalam Tuhan, tempat perlindungan kita yang kuat dan Hakim yang adil --AMC

SETIAP ORANG HARUS MEMILIH -- KRISTUS ATAU HUKUMAN

PENDEK DAN BURUK

Bacaan: Kejadian 47:1-10
NATS: Jawab Yakub kepada Firaun, "... Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya" (Kejadian 47:9)

Kehidupan Yakub penuh pencobaan. Demikian pula hidup kita. Hidup menekan dan membatasi kita, menimpakan beban yang tidak ingin kita pikul. Akan tetapi penderitaan yang paling tidak adil, paling tidak layak kita terima, paling sia-sia, adalah kesempatan bagi kita untuk menanggapinya dengan cara yang dapat digunakan oleh Tuhan untuk mengubah kita menjadi serupa dengan-Nya. Kita dapat bersukacita dalam pencobaan yang kita hadapi, karena kita tahu bahwa kesulitan membuat kita "sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun" (Yakobus 1:3,4). Tetapi ini perlu waktu.

Kita menginginkan hasil yang cepat, tetapi tidak ada jalan pintas menuju tujuan akhir yang Allah tentukan bagi kita. Satu-satunya cara untuk bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus adalah dengan tunduk setiap hari pada kondisi yang Allah sediakan bagi hidup kita. Apabila kita menerima kehendak-Nya dan tunduk pada jalan-Nya, maka kekudusan-Nya akan menjadi milik kita. Perlahan-lahan tetapi pasti, Roh Allah mulai mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih lembut hati, lebih tegar, lebih kuat, lebih kokoh dan lebih bijak. Prosesnya misterius dan tidak bisa dipahami, tetapi demikianlah cara Allah melimpahi kita dengan rahmat dan keindahan. Kita pasti mengalami kemajuan.

Ruth Bell Graham mengatakan, semoga Allah memberi kita rahmat "untuk memikul panasnya api pembersihan, supaya beban kita tidak terasa semakin berat, tetapi kita dapat ikut memikul bagian penderitaan kita dan beban kita tetap ringan, dalam nama Yesus" —DHR

ALLAH SERING MENGOSONGKAN TANGAN KITA
UNTUK MENGISI HATI KITA

Tuesday, June 5, 2018

KEKUDUSAN SEBAGAI SUMBER BERKAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Juni 2018

Baca:  1 Petrus 1:13-25

"tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,"  1 Petrus 1:15

Salah satu tanggung jawab paling berat dalam hidup kristiani adalah hidup dalam kekudusan.  Topik tentang kekudusan adalah hal yang paling tidak disukai dan juga sering dihindari oleh kebanyakan orang Kristen.  Sebaliknya orang lebih berminat dan tertarik pada khotbah-khotbah atau pelajaran yang bertema berkat, mujizat, kesembuhan atau pemulihan;  padahal kekudusan adalah kehendak Tuhan yang harus ditaati!

     Kekudusan adalah standar hidup yang Tuhan tetapkan bagi orang percaya!  Salah satu arti dari kata  'kudus'  (bahasa Ibrani kadosh)  adalah naik lebih tinggi.  Artinya Tuhan memanggil orang percaya untuk hidup sesuai dengan standar-Nya, level hidup yang naik ke arah Kristus, yaitu hidup sebagaimana Kristus hidup.  Tidak ada alasan atau dalih untuk hal itu!  Sebab Tuhan sudah memberikan Roh Kudus untuk menyertai kita, memampukan, menguatkan, mengajar dan menuntun kita kepada kebenaran  (Yohanes 16:13);  Tuhan juga sudah memberikan firman-Nya untuk menjadi pola hidup orang percaya.  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).  Karena itu rasul Paulus menasihati,  "...kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan."  (Ibrani 12:14).

     Di zaman sekarang ini kebanyakan orang lebih mengejar hal-hal yang bersifat duniawai:  keberhasilan, kesuksesan, kekayaan, popularitas dan sebagainya.  Demi mengejar kesemuanya itu mereka tidak lagi menempatkan perkara-perkara rohani sebagai hal yang utama, mengesampingkan perkara-perkara rohani.  Padahal kalau kita mau sungguh-sungguh hidup dalam kekudusan dan mengutamakan perkara-perkara yang dari Tuhan semua berkat pasti Tuhan sediakan bagi kita.  Sesungguhnya kekudusan adalah kunci untuk mengalami berkat-berkat dari Tuhan.  Tetapi banyak orang tidak mau tunduk pada pimpinan Roh Kudus, tidak mau menaati firman Tuhan dan memilih untuk mengikuti keinginan daging dengan segala hawa nafsunya.  Inilah kehendak Tuhan bagi orang percaya:  "...supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya."  (Efesus 1:4).

Berkat Tuhan tersedia bagi orang-orang yang hidup seturut kehendak-Nya!

LEBIH DARI ITU

Bacaan: Yohanes 17:1-8
NATS: Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3)

Anda selalu duduk di depan Sam di gereja. Anda tersenyum padanya dan berkata, "Selamat pagi" saat datang, lalu berkata, "Sampai Minggu depan" saat pulang. Namun suatu pagi, Anda menambahkan obrolan, "Sam, bisakah saya meminjam 100 dolar?"

Sayangnya, begitulah beberapa orang memperlakukan Tuhan. Mereka bersekutu dengan Tuhan hanya pada hari Minggu sampai mereka memerlukan sesuatu. Namun, Allah ingin lebih dari itu.

Yang terutama, Tuhan ingin kita mengenal-Nya sebagai Juru Selamat. "Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yohanes 17:3).

Setelah kita menjadi anak-Nya (1:12), Allah menginginkan komunikasi yang terus-menerus terjalin dengan kita dan Dia juga ingin pengenalan kita tentang Dia maupun tentang siapa kita nantinya melalui pertolongan-Nya semakin bertumbuh. Dia tak ingin menjadi kenalan yang hanya ditemui pada hari Minggu atau Seseorang yang hanya menjadi tempat curahan hati pada saat kita putus asa. Allah ingin kita memiliki persekutuan pribadi dengan-Nya. Dia pun ingin kita bertumbuh dalam kerinduan kita untuk menyenangkan-Nya dengan menaati-Nya. "Inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya" (1Yohanes 2:3).

Allah mengasihi Anda dan ingin Anda mengenal-Nya. Dia memang menjawab doa-doa yang bernada putus asa. Namun, sebelum Anda meminta, pastikan Anda mengenal-Nya secara pribadi --CHK

Bukan hanya kata-kata hampa yang Tuhan mau
Dari orang-orang yang telah ditebus-Nya;
Dia merindukan kita mengenal kasih-Nya,
Dan kita berdiam di dalam kasih-Nya itu. --D. De Haan

MEMILIKI PENGETAHUAN AKAN ALLAH MEMANG MENARIK,
TETAPI MENGENAL ALLAH AKAN MENGUBAH HIDUP KITA

Sunday, June 3, 2018

SELAMAT DATANG KRITIK

Bacaan: Amsal 9:1-10
NATS: Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak (Amsal 15:5)

Peneliti kanker Dr. Robert Good adalah sosok pekerja keras yang secara cerdas dapat memunculkan ide-ide baru. Menurut artikel yang saya baca tentang beliau, ia memiliki kemampuan untuk menggunakan semua informasi yang pernah ia peroleh.

Meskipun demikian saya sangat terkesan dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa ia bersedia mengakui kesalahan yang terjadi dalam berbagai teorinya dan meninggalkannya lebih cepat dari siapa pun dalam penelitian medis. Salah seorang rekannya berkata, "Dr. Good tidak pernah ‘menikahi’ hipotesa-hipotesanya, jadi ia juga tidak merasakan sakitnya ‘perceraian’ apabila salah satu hipotesanya terbukti salah."

Amsal 9 sangat menghargakan kesediaan untuk menghadapi kesalahan dan mengakuinya. Renungan hari ini menggambarkan "orang bijak" sebagai orang yang mau belajar dari kesalahannya. Apabila ia ditantang, ia menahan diri untuk tidak meninggikan punggungnya seperti layaknya kucing jantan yang terancam. Sebaliknya, ia menerima setiap nasihat dengan baik dan bahkan itu menjadi sarana penting baginya untuk menambah pengetahuan (ayat 9). Di pihak lain, apabila seorang "pencemooh" dikecam, ia menanggapinya dengan kemarahan dan kebencian (ayat 8). Karena rasa egonya terlalu besar, ia tidak mau mendengar apabila kesalahannya dikemukakan.

Kita perlu mengikuti jalan yang penuh hikmat dengan memerhatikan kata-kata yang menegur kita. Untuk sungguh-sungguh menjadi bijak, kita harus ingat bahwa adakalanya kita juga melakukan hal yang bodoh --MRD

ORANG YANG TIDAK MAU MENDENGARKAN KRITIK
TIDAK AKAN PERNAH BELAJAR DARINYA

BELAS KASIHAN TUHAN:

Sanggup Menyembuhkan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Juni 2018

Baca:  Matius 14:13-21

"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit."  Matius 14:14

Jika sampai hari ini kita masih dapat bernafas, menghirup udara segar di pagi hari, diberi kesehatan tubuh, dan kembali beroleh kesempatan dari Tuhan untuk melakukan aktivitas dan mengerjakan semua yang telah dipercayakan-Nya, itu semata-mata karena anugerah Tuhan.  "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"  (Ratapan 3:22-23).  Di sisi lain ada Saudara kita yang sedang terkulai lemah tak berdaya karena sakit-penyakit yang diderita.  Hari-hari yang dijalaninya tampak kelabu dan sepertinya tertutup awan tebal.  Hati kecilnya pun bertanya-tanya:  masih adakah harapan baginya untuk melihat hari esok?

     Di dalam Tuhan selalu ada harapan!  Sebab kita punya Tuhan yang adalah Jehova Rapha, Tuhan Sang Penyembuh.  Orang beroleh kesembuhan dari Tuhan bukan karena ia aktif dalam pelayanan, bukan karena ia berstatus orang kaya atau berpangkat, bukan karena ia memiliki wajah yang rupawan, bukan juga karena ia hebat dan pintar, melainkan karena belas kasihan Tuhan.  Perhatikan dua kisah ini:  ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan dan berserulah mereka kepada Tuhan:  "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!"  (Matius 20:30).  Lalu, tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan,  "...lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia."  (Matius 20:34).  Juga, seorang sakit kusta datang kepada Tuhan dan berlutut di hadapan-Nya:  "'Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.' Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu... Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir."  (Markus 1:40-42).

     Belas kasihan Tuhan adalah pintu menuju kepada kesembuhan dan pemulihan.  Mungkin bukan fisik kita yang sakit, tapi ekonomi kita sedang sakit, hubungan suami-isteri sedang sakit, pelayanan kita sedang sakit.  Tak ada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati dan memohon belas kasihan-Nya.

"Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati."  Roma 9:15