Wednesday, August 15, 2018

BENGKOK DAN LURUS

Bacaan: Ibrani 11:1-7
NATS: Karena iman, Nuh ... mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya (Ibrani 11:7)

Charles Haddon Spurgeon, seorang pengkhotbah yang ternama di kota London, menemukan sebuah prinsip yang terdapat dalam kehidupan Nuh bahwa "setiap tindakan iman menghukum dunia". "Karena iman, Nuh ... dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia menjadi ahli waris kebenaran, sesuai dengan imannya" (Ibrani 11:7).

Ketika menafsirkan ayat di atas, Spurgeon mengatakan, "Hiduplah kudus .... Saya pernah mendengar bahwa jika ada tongkat yang bengkok dan Anda ingin menunjukkan sebengkok apa tongkat tersebut, maka Anda tidak perlu menggambarkannya secara panjang lebar. Letakkanlah sebuah tongkat yang lurus di sebelah tongkat yang bengkok tersebut. Dengan demikian Anda akan langsung mendapat jawabannya. Nuh menghukum dunia dan menjadi ahli waris kebenaran karena iman."

Perjanjian Baru menyebut Nuh sebagai seorang "pemberita kebenaran" (2Petrus 2:5), meski tak satu pun "khotbah"nya ditulis dalam Alkitab. Barangkali ketaatan Nuh kepada Allah dalam membuat bahtera itulah yang menjadi kesaksian terbesarnya kepada generasi yang berpusat pada diri sendiri dan kejam saat itu. "Tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya" (Kejadian 6:22).

Betapa mudahnya kita tergoda untuk mengkritik dosa yang dilakukan orang lain. Namun, alangkah jauh lebih luar biasa bila kita memilih untuk menunjukkan keagungan dan kebenaran Allah dengan hidup bagi-Nya --DCM

KEHIDUPAN KRISTIANI MERUPAKAN ALKITAB DUNIA

PERINGATAN DUNIA

Bacaan: Amsal 13:1-14
NATS: Ajaran orang bijak adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat-jerat maut (Amsal 13:14)

Angsa-angsa sering datang ke Kolam Mill di Inggris, tempat Direktur Regional RBC, Howard Liverance, tinggal. Melihat hal itu ia menulis, "Itu adalah tempat yang indah ... yaitu tempat bebek, angsa, dan burung-burung air lainnya bermain dengan jenaka." Namun, ada bahaya di tempat yang tenang itu. Di seberang salah satu sudut kolam tersebut terdapat jaringan listrik. Sejumlah angsa telah mati karena menginjaknya saat berjalan ke kolam.

Howard berbicara kepada sejumlah orang mengenai masalah ini dan akhirnya perusahaan listrik memasang bendera-bendera merah di atas jaringan tersebut. Sekarang angsa-angsa dapat melihat adanya bahaya tersebut dan menghindarinya. Sejak dipasangnya bendera-bendera merah, tak ada satu pun angsa yang mati.

Allah pun telah menyediakan "bendera-bendera merah" untuk melindungi diri kita. Kitab Amsal adalah kitab yang berisi berbagai peringatan tentang hal-hal yang jahat dan mendorong kita untuk mencari hikmat. Di dalam Amsal 13:1-14, kita akan dapat menemukan beberapa "bendera merah". "Bendera merah" itu termasuk di antaranya:

o jangan mengabaikan didikan dan hardikan (ayat 1);

o jagalah mulutmu (ayat 3);

o berhati-hatilah dalam mengejar harta (ayat 7);

o jauhilah ketidakjujuran (ayat 11); dan

o jangan meremehkan firman Allah (ayat 13).

Firman Allah "adalah sumber kehidupan, sehingga [kita] terhindar dari jerat-jerat maut" (ayat 14) --AMC

TUJUAN PERINGATAN-PERINGATAN ALLAH

ADALAH UNTUK MELINDUNGI, BUKAN UNTUK MENGHUKUM KITA

BERTERIMA KASIH

Bacaan: Kolose 3:12-17
NATS: Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita (Kolose 3:17)

Tolong dan terima kasih adalah sebagian dari kata-kata pertama yang diajarkan kepada kita. Tak ada yang segembira orangtua atau kakek dan nenek, saat seorang anak mengucapkan kata-kata itu untuk pertama kalinya dan tahu hubungan antara meminta dengan sopan dan menerima dengan berterima kasih.

Namun saya yakin bahwa saat kita tumbuh dewasa, kita lebih terlatih untuk berkata "tolong" daripada "terima kasih", terutama kepada Bapa surgawi. Kita lebih memusatkan perhatian kepada kebutuhan yang mendesak daripada apa yang sudah kita terima; kita lebih banyak memohon daripada menaikkan pujian. Allah memang mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan segala kebutuhan kita, tetapi Dia juga mendorong kita untuk membiasakan diri berterima kasih.

Dalam Kolose 3:15, Paulus mengajarkan kepada setiap pengikut Yesus Kristus "hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu". Dan tiga kali ia mengingatkan kita untuk tetap bersyukur kepada Allah: "bersyukurlah" (ayat 15); bernyanyi dengan penuh syukur kepada Tuhan (ayat 16); "lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita" (ayat 17).

Dr. Michael Avery, presiden Sekolah Alkitab Allah di Cincinnati, Ohio, berkata, "Aroma harum dari jiwa yang bersyukur menghormati dan memuliakan Allah. Hal itu mengusir kemuraman dan mendatangkan kedamaian yang indah serta pengharapan yang penuh berkat. Rasa syukur mendorong kemurahan hati."

Bersyukur kepada Allah itu baik --DCM

BERSYUKUR SEHARUSNYA MERUPAKAN SIKAP

YANG TERUS MENERUS, BUKAN KADANG-KADANG

VIRUS

Bacaan: 2Korintus 10:3-6
NATS: Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Korintus 10:5)

Pada hari-hari tertentu, komputer membuat saya terbang seperti rajawali. Akan tetapi pada hari-hari yang lain, ia membuat saya berkubang di lumpur seperti kuda nil. Pada "hari-hari rajawali" saya bersyukur atas komputer saya. Namun, ada pula "hari-hari kuda nil" yang membuat saya menyesal telah membelinya.

Baru-baru ini saya harus bergumul dengan virus yang menyerang komputer saya. Hal yang paling menjengkelkan saya adalah karena virus diciptakan dengan niat jahat. Orang-orang pintar yang memiliki sisi gelap dalam hidup mereka ingin membuat orang lain menderita. Namun lebih parah lagi, virus itu masuk ke komputer saya karena saya membuka e-mail yang saya kira tidak berbahaya.

Dosa itu mirip virus komputer. Iblis ingin menghancurkan orang-orang kristiani dengan menodai pikiran mereka. Namun, Rasul Paulus mengimbau orang-orang percaya di Korintus untuk "menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2Korintus 10:5).

Sama seperti virus yang memasuki komputer kita, kita pun membiarkan kegelapan memasuki hidup apabila kita dengan ceroboh membuka diri terhadap pesan-pesan tidak baik yang menyusup ke dalam kebudayaan kita. Kewaspadaan kita lemah dan kita tidak menyadari dosa yang menodai pikiran kita.

Namun dengan mengaku dosa, membaca firman Allah, dan berdoa, kita membangun "dinding yang tahan api" atau penghalang untuk melindungi pikiran kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat menjaga pikiran agar tamu-tamu yang tidak diinginkan tidak masuk ke dalam diri kita --HWR

JAGALAH PIKIRAN ANDA

SAMA SEPERTI ANDA MENJAGA DOMPET ANDA

MEMEPEROLEH PENGHORMATAN

Bacaan: Daniel 1:1-16
NATS: Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya (Daniel 1:8)

Ketika seorang musisi profesional dengan nama panggilan "Happy" memutuskan untuk menjadi orang kristiani, ia berhenti bermain musik di klub malam dan melayani di sebuah misi penyelamatan. Beberapa waktu kemudian, ia ditelepon oleh seorang manajer klub yang ingin mengontraknya untuk melakukan pertunjukan yang akan mendatangkan banyak uang. Namun, Happy menolak tawaran tersebut, dan berkata kepada sang manajer bahwa ia akan bermain musik di pelayanan misi. Happy berkata, "Ia mengucapkan selamat kepada saya. Itu membuat saya terkejut. Ia hendak mengontrak saya untuk bernyanyi untuknya, tetapi ia justru mengucapkan selamat karena saya telah menolak tawarannya." Manajer itu menghormati keputusan Happy.

Daniel menjadi tawanan di negeri asing, namun ia tidak melupakan prinsip keagamaannya. Ia tidak mungkin dapat dengan sepenuh hati memakan daging yang telah dipersembahkan bagi berhala dan yang tidak disembelih menurut hukum Ibrani. Ia kemudian hanya meminta makanan sederhana yaitu berupa sayuran dan air, dan pelayan itu menanggung risiko kehilangan nyawa untuk menghormati permintaannya. Saya percaya, pelayan itu melakukannya karena tingkah laku Daniel yang baik membuatnya menghormati Daniel.

Dunia sekitar kita akan memandang remeh terhadap orang-orang kristiani yang tidak menjalankan apa yang telah mereka yakini. Oleh karena itu, kita harus senantiasa setia pada keyakinan kita. Kekonsistenan karakterlah yang membuat orang lain menghormati kita—HVL

DENGAN HIDUP BAGI KRISTUS, ANDA MUNGKIN KEHILANGAN TEMAN
TETAPI BUKAN PENGHORMATAN MEREKA KEPADA ANDA

DUA KETAKUTAN BESAR

Bacaan: Mazmur 107:23-32
NATS: Dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka (Mazmur 107:30)

Mazmur 107 menceritakan tentang "orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal" (ayat 23). Sepanjang perjalanan mereka di laut, mereka melihat Allah sebagai Pribadi yang berada di balik badai yang bergelora dan Pribadi yang menenangkan badai tersebut. Di dunia kapal layar, ada dua ketakutan besar, yaitu angin ribut yang menakutkan dan tidak ada angin sama sekali.

Di dalam puisi yang berjudul The Rime of the Ancient Mariner, penyair Inggris, Samuel Taylor Coleridge (1772-1834) menggambarkan badai dan kesunyian di laut. Dua kalimat dari puisi tersebut telah sangat terkenal:

Air, air di mana-mana,

Dan tak setetes pun dapat menghapus dahaga.

Pada posisi garis lintang tertentu, angin benar-benar berhenti bertiup sehingga kapal layar tidak bergerak. Kapten dan awak kapal "terjebak" tanpa bantuan. Akhirnya, tanpa adanya angin yang bertiup, persediaan air mereka pun habis.

Kadang kala kehidupan menuntut kita untuk bertahan di dalam badai. Namun pada kesempatan yang lain, kita juga diuji di dalam kejemuan. Kita mungkin merasa terjebak. Sesuatu yang sangat kita idam-idamkan, sama sekali tidak dapat kita raih. Akan tetapi, sekalipun kita berada di dalam keadaan krisis atau berada di sebuah tempat di mana "angin" rohani telah diambil dari pelayaran kita, sangatlah penting bagi kita untuk memercayai tuntunan Allah. Tuhan, yang bertakhta atas situasi yang berubah-ubah, pada akhirnya akan menuntun kita menuju pelabuhan kesukaan kita (ayat 30) --HDF

ALLAH MENENTUKAN PERHENTIAN SEKALIGUS PERJALANAN KITA

TARIK TAMBANG

Bacaan: Filipi 2:1-4; 4:1-3
NATS: Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (Filipi 2:2)

Sebuah perguruan tinggi di daerah kami memiliki upacara tahunan yang menarik, yaitu tarik tambang. Dua tim berlatih dan mempersiapkan diri untuk bersama-sama menarik ujung tali mereka guna memenangkan kompetisi dan menghindari galian lumpur di tengah-tengah mereka serta berhak menyombongkan diri selama setahun ke depan. Kompetisi itu menyenangkan, namun dapat menjadi menegangkan.

Sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus, kita kerap kali menghadapi tantangan dalam belajar bagaimana caranya agar dapat "menarik" bersama-sama. Kepentingan diri, agenda pribadi, dan pergumulan kekuasaan dapat menjadi penghalang bagi pelayanan yang tulus serta karya Kristus.

Begitulah kejadiannya di dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, di mana ia harus memohon kepada Euodia dan Sintikhe supaya "sehati sepikir" (4:2). Gesekan pribadi di antara mereka menciptakan batu sandungan bagi pelayanan rohani mereka, dan "tarik tambang" mereka membahayakan hidup gereja.

Paulus memohon agar mereka menarik bersama-sama dan bekerja untuk menghormati Sang Tuan. Permohonan tersebut berlaku juga bagi kita hari ini. Saat kita merasa jauh dari rekan-rekan kita sesama orang percaya, kita harus mencari kesamaan dalam Juru Selamat.

Gereja bukanlah tempat untuk "bertarik tambang". Kita harus bekerja sama bagi kemajuan kerajaan Allah. Dia dapat memakai kita melalui cara-cara yang indah jika kita mengesampingkan perbedaan pribadi kita dan menarik "tali" itu bersama-sama --WEC

SEORANG PERCAYA YANG BERSELISIH DENGAN ORANG KRISTIANI LAIN

TIDAK DAPAT BERDAMAI DENGAN BAPA