Friday, September 14, 2018

TIDAK BIJAKSANA

Ayat: Yosua 9:1-18
Bacaan Setahun: Daniel 1-3
Nas : Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka. (Yosua 9:15)

Kita sering tertipu oleh penampilan seseorang. Mereka memasang muka lusuh, mengenakan baju kotor, dan sengaja melukai tubuhnya untuk menarik belas kasihan orang kepadanya. Jika sudah demikian, siapa yang tidak tersentuh hatinya? Lalu kita pun melakukan "banyak hal baik" tanpa pernah tahu jika kita sedang diperdaya olehnya.

Dalam menentukan sebuah pilihan, kita kerap tidak bijaksana, apalagi jika pilihan-pilihan itu adalah sesuatu yang tampaknya remeh. Yosua dan bangsa Israel misalnya. Ketika orang-orang Gibeon datang dengan wajah memelas, baju-baju kotor, dan bekal berjamurnya, Yosua begitu mudahnya teperdaya. Mungkin masalah itu dianggap begitu remehnya sampai-sampai ia tidak meminta keputusan Tuhan (ay. 14). Yosua begitu mudahnya memenuhi permintaan mereka untuk menjalin persahabatan dan tidak akan menumpas mereka. Sikap "tidak bijaksana" itu pada akhirnya memberi masalah baru bagi Israel. Kawin campur tidak terelakkan yang membawa mereka pada penyembahan dewa-dewa Kanaan (Hak. 3:6).

Tidak sulit bagi kita untuk menolak sesuatu yang jelas-jelas buruk. Justru yang sulit adalah memutuskan beberapa pilihan yang tampak baik. Celakanya, jika kita sudah merasa cukup benar, kita merasa tidak perlu melibatkan Tuhan. Sikap tidak bijaksana inilah yang pada akhirnya membawa kerugian di kemudian hari. Sikap tidak bijaksana Yosua kiranya menjadi pengingat bagi kita untuk tidak menganggap remeh sebuah persoalan. Apapun itu, tetaplah meminta keputusan Tuhan agar kita dapat membuat keputusan secara tepat. --SYS/www.renunganharian.net

SEREMEH APA PUN MASALAHNYA,
BERLAKULAH BIJAK DAN LIBATKAN TUHAN.

ALLAH TURUT MENANGIS

Bacaan: Mazmur 116
NATS: Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 116:15)

Apa yang dimaksud dalam Mazmur 116:15, "Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya"? Tentunya Allah tidak menemukan kesenangan dari kematian anak-anak-Nya! Jika ya, mengapa pemazmur memuji Allah karena Dia telah menghindarkannya dari kematian? Lalu, mengapa Yesus merintih dan mencucurkan air mata saat melihat dukacita di kubur Lazarus (Yohanes 11:33-35)? Saya setuju dengan para ahli Kitab Suci yang menerjemahkan Mazmur 116:15 menjadi "Mahal di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya."

Di dunia ini, kematian Anda akan segera dilupakan semua orang, kecuali jika Anda seorang selebriti. Mungkin, yang tak akan melupakan Anda hanya sekelompok teman dan sahabat. Namun, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Allah juga merasakan penderitaan serta kepedihan yang dirasakan oleh mereka yang kehilangan. Bahkan, kematian orang-orang percaya yang rendah hati bisa sangat menyakiti hati-Nya.

Baru-baru ini, pemikiran ini muncul di benak saya saat menghadiri pemakaman saudara saya, Tunis. Keluarga dan pendetanya memuji belas kasihan, kebaikan, dan kemurahan hatinya. Sesudah itu, orang-orang yang mengenalnya sebagai pengusaha membicarakan setiap kebaikannya. Meskipun ia hanya satu di antara sekian banyak pengumuman kematian di koran, kematiannya merupakan sebuah kehilangan besar bagi kami yang mengenal dekat dan mencintainya. Dan, sungguh melegakan ketika mengetahui bahwa saat Allah menerima kematiannya, Dia turut merasakan kepedihan kita. Dari situ, saya percaya Dia juga sedang mencucurkan air mata bersama kita --HVL

ALLAH TURUT MERASAKAN PENDERITAAN KITA

Wednesday, September 12, 2018

PERINGATAN TUHAN

Kamis, 13 September 2018

Bacaan   : Keluaran 7:14-8:19
Setahun : Yehezkiel 43-45
Nas       : Demikianlah nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang. (Keluaran 8:18b)

Peringatan Tuhan

Tulah pertama-air menjadi darah- melanda Mesir dengan peringatan lebih dahulu kepada Firaun di saat pagi hari kala pikirannya masih jernih (Kel. 7:15-16). Tulah kedua-katak-menyergap masih dengan peringatan juga walau tanpa keterangan waktu (Kel. 8:1). Tulah ketiga-nyamuk-menyerbu tanpa peringatan lagi. Tulah pertama tak menyentuh badan. Yang kedua melompat ke badan. Berikutnya, ketiga, menggigit badan.

Colin J. Humphreys-ilmuwan yang secara serius mendalami sepuluh tulah di Mesir secara ilmiah-yakin bahwa serangga yang menyerbu tanah Mesir, di bulan Oktober dan November, sebagai tulah berikut menyusul keluarnya katak dari Sungai Nil, ialah Culicoides canithorax. Jenis serangga bersayap ini gigitannya menimbulkan berbagai reaksi pada tubuh manusia, termasuk alergi yang amat mengusik. Apalagi jika datang dalam jumlah yang "sebanyak debu di tanah" (Kel. 8:17).

Kendati banyak yang meragukannya, hukuman Tuhan itu ada. Nyata. Yang membuat kita bersyukur, Tuhan tak pernah menghukum semena-mena tanpa alasan. Juga bukannya tanpa peringatan. Hanya, jika dari waktu ke waktu peringatan-Nya terus diabaikan, hukuman itu pasti meningkat. Itu pun sebuah peringatan. Firaun pun diperingatkan, apalagi kita. Bersyukurlah atas kesabaran Tuhan dan belajarlah menjadi peka akan peringatan-peringatan dari-Nya. --PAD/www.renunganharian.net

YA, PERINGATAN-PERINGATAN-MU MENJADI KEGEMARANKU,
MENJADI PENASIHAT-PENASIHATKU.-RAJA DAUD, MAZMUR 119:24

WISATAWAN YANG MENDERITA

Bacaan: Matius 11:20-30
NATS: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28)

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Hong Kong, termasuk transit selama tujuh jam dan tiga jam penundaan, kami akhirnya tiba di Chicago. Hanya kira-kira 20 menit, kami ketinggalan penerbangan terakhir ke Grand Rapids yang menjadi tujuan kami. Maskapai penerbangan memesankan kamar hotel bagi kami dan kami pergi ke hotel itu untuk istirahat semalam. Kami pasti tampak menyedihkan bagi karyawan hotel. Seorang dari mereka memandangi kami, menggelengkan kepala, dan berkata, "Wisatawan yang menderita." Mungkin dalam industri wisata, kata itu adalah istilah yang umum, tetapi istilah itu baru bagi saya. Dan, rasanya sangat mengena setelah saya menempuh perjalanan berat selama dua hari.

Bagi saya, pengalaman itu merupakan metafora hidup. Di dunia ini kita adalah para peziarah yang sedang berjalan ke rumah surgawi yang jauh melebihi gambaran yang ada. Namun, sepanjang jalan, urusan dan beban perjalanan dapat merampok harapan serta sukacita kita. Kita menjadi wisatawan yang menderita dalam keputusasaan, hingga membutuhkan dorongan semangat dan penyegaran. Tuhan memanggil peziarah yang letih seperti kita, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28). Hanya Dialah yang dapat memberikan kelegaan bagi jiwa kita, sehingga kita dikuatkan ketika menempuh perjalanan selanjutnya.

Apakah Anda menderita dalam perjalanan Anda? Bersandarlah kepada-Nya! Kasih dan pemeliharaan-Nya tersedia untuk memulihkan hati Anda --WEC

SAAT ANDA MENJALANI KEHIDUPAN YANG MELETIHKAN
BIARKANLAH YESUS YANG MEMBAWA BEBAN ANDA

Wednesday, September 5, 2018

TERUS MENGEJAR

Bacaan: Mazmur 73:25-28
NATS: Aku suka dekat pada Allah (Mazmur 73:28)

Pemazmur menyikapi segala hal dengan sederhana: "Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi" (Mazmur 73:25). Segala pertumbuhan dalam kehidupan rohani kita ditandai oleh gerak kita menuju suatu kesimpulan, yaitu keyakinan bahwa hanya satu hal yang kita perlukan: Allah sendiri.

Semua perkembangan di dalam kehidupan rohani merupakan kemajuan dalam mengenal Allah dan mengasihi-Nya, yaitu bergerak menuju titik di mana kita dapat berkata seperti penyair Israel itu: "gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya" (ayat 26).

Cara pandang ini mengubah cara kita dalam menyikapi segala sesuatu. Penderitaan dan kesengsaraan menjadi sarana yang membuat kita lapar dan haus akan Allah. Kekecewaan menjadi alat yang menghentikan kita dari pekerjaan-pekerjaan duniawi dan menggerakkan kita menuju Allah sendiri. Bahkan dosa, apabila disesali, dapat menjadi alat untuk mendorong kita agar menjadi lebih dekat kepada-Nya, sehingga kita dapat mengalami kasih dan pengampunan-Nya. Semua hal dapat berguna apabila kita memandangnya sebagai sarana menuju sasaran yang utama, yaitu mendekat kepada Allah.

Seperti Paulus, kita dapat berkata, "Aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus" (Filipi 3:12). Bagaimana kita mengejarnya? Caranya dengan menjawab kasih-Nya dalam kerendahan hati dan penuh rasa syukur. Akan tetapi, semua itu dimulai dari diri Allah. Dialah yang lebih dulu mencari kita supaya kita dapat mencari Dia -DHR

ALLAH BEGITU MENGASIHI KITA

SEHINGGA KITA TAK BOLEH BERHENTI BERTUMBUH SECARA ROHANI

MENGHADAPI MUSUH

Bacaan: Mazmur 27
NATS: Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku (Mazmur 27:3)

Semasa Perang Saudara Amerika Serikat, meletuslah sebuah pertempuran yang sengit di dekat Moorefield, Virginia Barat. Karena terletak di dekat di garis musuh, maka kota tersebut dikendalikan secara bergantian oleh pasukan Serikat dan pasukan Konfederasi.

Di pusat kota itu, tinggallah seorang wanita yang sudah tua. Menurut kesaksian seorang pendeta Presbiterian, pada suatu pagi beberapa tentara musuh menggedor pintu rumah wanita tersebut dan menuntut agar mereka disediakan makan pagi. Ia kemudian mengajak mereka masuk dan berkata bahwa ia akan menyiapkan sesuatu bagi mereka.

Ketika makanan telah siap, ia berkata, Saya biasa membaca Alkitab dan berdoa sebelum makan pagi. Saya harap kalian tidak keberatan mengikuti kebiasaan saya. Mereka pun setuju. Kemudian ia mengambil Alkitabnya, membukanya secara acak, dan mulai membaca Mazmur 27. Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? (ayat 1). Ia membacanya terus hingga ayat terakhir: Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! (ayat 14). Setelah selesai membaca, ia berkata, Marilah kita berdoa. Ketika ia sedang berdoa, ia mendengar suara para tentara itu mondar-mandir di dalam ruangan rumahnya. Pada saat ia berkata amin dan mengangkat kepala, ternyata para tentara itu sudah pergi dari situ.

Renungkanlah Mazmur 27. Jika Anda sedang menghadapi musuh, Allah akan menggunakan firman-Nya untuk menolong Anda HWR

IZINKANLAH KETAKUTAN MEMBAWA ANDA
KEPADA BAPA SURGAWI

"SAYA JUGA MELAKUKANNYA"

Bacaan: Matius 18:23-33
NATS: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa (1Timotius 1:15)

Teman kami Barbara Leavitt sangat menyukai bunga. Rumahnya seperti taman yang sangat indah dan harum semerbak, demikian pula hidupnya. Ia hadir seperti buket bunga yang menyenangkan.

Tahun 2005, Barbara pergi selamanya untuk bertemu Tuhan. Namun, peristiwa yang terjadi beberapa hari menjelang kematiannya tak akan pernah saya lupakan. Istri saya dan saya sedang duduk di samping tempat tidurnya bersama beberapa kawan lain dan bercerita tentang masa kanak-kanak kami. Lalu saya bercerita bahwa saya pernah mencuri beberapa tangkai bunga. Ada sebuah taman di antara sekolah dasar tempat saya bersekolah dan rumah kami. Suatu hari, ketika saya berjalan melalui taman itu, saya melihat sederet bunga iris yang sedang berkembang dan memetik beberapa tangkai untuk ibu saya. Beberapa anak lelaki yang lebih tua melihat perbuatan saya dan mengancam akan memanggil polisi. Saya ketakutan selama berminggu-minggu karena berpikir bahwa mereka akan datang dan membawa saya pergi.

Barbara menyentuh tangan saya dan berbisik, "Saya juga pernah melakukannya." Saya pikir, begitu semestinya tanggapan saya jika melihat atau mendengar dosa orang lain, "Saya juga melakukannya." Mungkin saya tak melakukan dosa yang sama, tetapi semua dosa kita tercela dan membutuhkan ampunan Allah.

Menurut John Newton, kesadaran atas keburukan diri sendiri disebut "akar dari kelembutan hati yang kekal". Saya tidak ingin menjadi seperti hamba yang tidak tahu berterima kasih dalam Matius 18. Saya ingin berbudi baik dan menunjukkan belas kasihan, sebab "Saya juga melakukannya" -DHR

KITA DAPAT MENUNJUKKAN BELAS KASIHAN KEPADA ORANG LAIN

SEBAB ALLAH SUDAH BERBELAS KASIH KEPADA KITA